Terkini
Gallery

More News

Teror di Utrecht, Menlu Retno sampaikan dukacita bagi korban penembakan

Menlu RI Retno Marsudi. Foto : dok Kemlu.

JAKARTA, FEMALE.CO.ID- Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi menyampaikan dukacita dan simpati sehubungan dengan penembakan di Utrecht, Belanda, yang terjadi Senin (18/3).

Ungkapan dukacita tersebut disampaikan Menlu Retno dalam pembicaraan dengan Menlu Belanda Stef Blok.

Melalui cuitan yang diunggahnya pada Senin malam, Menlu Retno menyampaikan kecaman Indonesia terhadap aksi kekerasan tersebut dan keyakinan bahwa pelaku akan segera ditangkap dan diadili.

“Mari kita semua mempersatukan upaya untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi, menghormati, dan membawa kedamaian bagi umat manusia,” demikian cuitan Menlu Retno.

Polisi Belanda telah menangkap seorang pria yang dicurigai menembak mati tiga orang dan melukai lima orang lainnya di sebuah trem di Kota Utrecht. Peristiwa itu diduga terkait perselisihan keluarga

Gökmen Tanis (37), seorang pria berkewarganegaraan ganda Belanda-Turki, ditangkap di sebuah jalan di utara kota beberapa jam setelah penembakan yang terjadi pada pukul 10.45 waktu setempat di persimpangan 24 Oktoberplein.

Awalnya pihak berwenang mengatakan serangan ini mungkin terkait terorisme, demikian dilaporkan The Guardian.

Akibat insiden ini, otoritas Belanda mengimbau warga Utrecht untuk tinggal di rumah, siswa dicegah meninggalkan sekolah dan kampus, dan banyak toko di kota itu tutup.

Seorang juru bicara kantor kejaksaan Belanda mengatakan para penyelidik masih mempertimbangkan kemungkinan motif teror tetapi alasan lain juga tidak dikesampingkan (Ant/TC/FI)

Pasca Teror Penembakan di Masjid Christchruch, Perempuan Selandia Baru Kompak Berhijab

Facebook @Scarvesinsolidarity/Newshub
NEW ZEALAND, FEMALE.CO.ID- Masyarakat Selandia Baru atau New Zealand masih berduka pasca insiden teror penembakan yang menyerang Masjid di pusat kota Christchurch yang menewaskan setidaknya 49 orang.

Sejumlah aksi solidaritas ditunjukkan oleh warga Selandia Baru. Salah satunya adalah gerakan Scarves in Solidarity atau Solidaritas dalam Jilbab.

Dari akun Facebook @Scarvesinsolidarity yang mengunggah sebuah postingan pada 19 Maret 2019.

Rencananya gerakan ini dilangsungkan pada Jumat, (22/3/2019) tepat seminggu insiden mematikan pembantaian di Masjid Chrischurch berlalu.

Kejadian memilukan terjadi di kota Christchurch, Selandia Baru pada hari ini, Jumat (15/3/2019).

Dugaan sementara serangan aksi teror itu dilakukan oleh ekstrimis sayap kanan kepada kaum muslim di Christchurch.

Empat pelaku yang terdiri dari 3 pria dan satu wanita berhasil diamankan.

Sementara itu satu pelaku pria telah ditetapkan menjadi tersangka.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison seperti dikutip dari BBC mengonfirmasi pelaku yang ditangkap adalah seorang pria berumur 28 tahun bernama Branton Tarrant asal Grafton, Australia.

Branton Tarrant mengklaim sebagai teroris yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Melalui manifesto berjudul "The Great Replacement" yang dia buat sendiri, terungkap Tarrant sudah merencanakan aksi kejinya itu.

Dalam manifesto setebal 74 halaman itu, Tarrant memperkenalkan diri sebagai anti-imigran dengan para korban disebutnya sebagai "sekelompok penjajah" yang ingin membebaskan tanah milik kaumnya dari "para penjajah".

Usai melancarkan aksi kejinya ia pun berhasil diamankan dan mulai menjalani proses pengadilan.(BBC/GH/FI)


Iis Dahlia Berbagi Tips Agar Anak Tak Terjerat Narkoba

JAKARTA, FEMALE.CO.ID- Dunia keartisan memang terkenal dengan kemewahan dan kegerlapan. Bisa-bisa terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik, karenanya harus pandai-pandai memilih teman dan lingkungan yang baik.

Apalagi sekarang marak banyak artis yang ditangkap polisi karena terjerat narkoba. Artis banyak yang mengkonsumsi narkoba disebabkan jadwal yang terlalu padat atau bisa juga disebabkan karena tidak ada job sama sekali sehingga pelarian mereka adalah dengan mengkonsumsi narkoba.

Pedangdut senior Iis Dahlia takut dengan pergaulan anak sekarang. Iis Dahlia seperti dikutip dari cumicumi.com, khawatir jika anaknya terjerat kasus narkoba. Oleh karena itu, Iis Dahlia selalu protektif kepada anak.

Iis juga mengatakan lebih baik di tes urine di rumah untuk mengetahui anaknya mengkonsumsi narkoba atau tidak. (CC/VV/FI)

Ini Keunggulan Punya Anak Perempuan

JAKARTA, FEMALE.CO.ID- Studi terbaru menyimpulkan bahwa remaja perempuan lebih ringan tangan dalam menyelesaikan tugas domestik dibandingkan remaja laki-laki.

Pusat penelitian Pew mengumpulkan data dari Biro Statistik Tenaga Kerja yang menampilkan dokumentasi kegiatan remaja usia 15 sampai dengan 17 tahun.

Dokumentasi tersebut merupakan dokumentasi 2.190 responden remaja dari tahun 2014 hingga 2017.
Seluruh responden diminta untuk mencatat waktu yang mereka habiskan untuk kegiatan sehari-hari, termasuk tugas dari sekolah, pekerjaan domestik, makan, tidur, perawatan, pendidikan, dan rekreasi.

Para peneliti menemukan bahwa remaja perempuan menghabiskan 38 menit melakukan tugas membersihkan dan merapikan rumah setiap hari, lebih tinggi daripada anak laki-laki, yang menghabiskan sekitar 24 menit dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.

"Memang benar di sepanjang perjalanan hidup bahwa perempuan biasanya melakukan pekerjaan rumah lebih banyak daripada laki-laki," sebut Gretchen Livingston, seorang peneliti di Pew Research Center seperti dikutip dari Beritagar.id.

“Saya pikir yang mengejutkan adalah bahwa kesenjangan jender ini terlihat dari usia muda, yakni 15-17 tahun. Informasi ini sangat menarik bagi saya.”

Selain itu, Livingston juga menyebutkan anak perempuan lebih rajin dalam belajar dan mengejar pencapaian edukasi daripada laki-laki.

Peneliti mencatat, remaja perempuan menghabiskan satu jam dan 11 menit setiap hari untuk mengerjakan tugas sekolah. Sementara itu, remaja laki-laki hanya bertahan belajar selama 50 menit setiap hari.

"Setengah jam mungkin kedengarannya tidak banyak, tapi itu setengah jam sehari dan tidak bertambah," imbuhnya.

Studi lain pada September 2018 yang dilakukan oleh Griffith University menemukan, ketangkasan anak perempuan dalam belajar membaca telah melampaui teman-teman laki-laki sebaya mereka selama 27 tahun terakhir.

"Pemikiran umum adalah bahwa anak laki-laki dan perempuan di sekolah dasar mulai dengan kemampuan kognitif yang sama, tetapi penelitian ini menunjukkan sebaliknya," jelas David Reilly, seorang peneliti di Griffith University dan rekan penulis penelitian, menulis dalam siaran pers.

"Penelitian kami mendapati bahwa anak perempuan secara umum menunjukkan kemampuan membaca dan menulis yang lebih baik daripada anak laki-laki sejak kelas empat."

Penemuan yang diterbitkan dalam jurnal Science tersebut sempat meramaikan media sosial. Sebab, peneliti menyimpulkan bias jender. Sementara hasil penelitian berdasarkan pengamatan terhadap responden anak-anak.

Dalam sejumlah artikel yang menayangkan hasil penelitian seolah menafsirkan bahwa anak perempuan kurang percaya diri tentang kecerdasan mereka.

Namun, pembacaan yang cermat dari hasil penelitian justru mengungkapkan kenyataan yang sebaliknya.

Peneliti menyimpulkan, sejak usia enam tahun, anak perempuan jauh lebih sadar akan kekuatan dan potensi mereka. Mereka pun menyadari, bekerja kerja dan bersikap baik adalah nilai-nilai yang lebih berharga daripada sekadar pintar. (BG/FI)

Viral Video Dugaan Pembiusan Wanita di Mal Jakarta, Ini Keterangan Pihak Kepolisian


JAKARTA, FEMALE.CO.ID- Video perempuan di sebuah mal di Jakarta yang diamankan karena diduga sebagai pelaku pencurian organ manusia kini ramai diperbincangkan di social media. Polisi meluruskan isu tersebut.

Kapolsek Pademangan Kompol Julianthy menjelaskan peristiwa itu dipicu cinta segitiga. Peristiwa itu terjadi pada Jumat di Mal WTC Mangga Dua, Jakarta Utara.

"Iya, jadi memang kejadiannya ada di WTC Mangga Dua wilayah kita, sore menjelang malam hari, kemarin sekitar pukul 19.00 WIB kejadiannya," ujar Julianthy seperti dikutip dari detikcom (16/3/2019).

Dalam video tersebut, tampak dua wanita terlibat percekcokan. Disebutkan dalam posting-an di media sosial, wanita berinisial S hendak membius korban berinisial E.



 Julianthy mengatakan peristiwa ini disebabkan cinta segitiga. Awalnya, jelas Julianthy, pelaku datang secara tiba-tiba untuk melabrak korban. Keduanya mengaku tidak kenal satu sama lain.

"Pokoknya ceritanya seperti dia korban inisial E, kemudian terduga pelaku inisial S. Ini motifnya cinta segitiga. Setelah kita interogasi, terungkap bahwa memang si terduga pelaku si S ini ada selingkuh dengan suami korban. Akhirnya si korban baru tahu ini ceweknya yang sering di WhatsApp chat oleh suaminya," ucapnya.

Kepada polisi, korban mengaku hendak disekap pelaku. Namun hal itu tidak berhasil dilakukan karena korban melakukan perlawanan.

"Memang mau ditutup ya mulutnya si korban mau disekap, tapi tidak sampai terjadi karena sama-sama perempuan kekuatan sama, si korban berontak. Ya sudah akhirnya karena ribut-ribut nggak jelas di WTC, akhirnya pihak sekuriti bawa ke Polsek Pademangan," kata Julianthy.

Setelah dilakukan pemeriksaan tas terhadap pelaku, polisi menemukan sejumlah jarum suntik dan pisau. Meski begitu, menurut pengakuan pelaku, benda tersebut tidak dikeluarkan ketika hendak melakukan aksinya. Pelaku, kata Julianthy, merupakan pedagang kosmetik yang kerap membawa benda-benda tersebut.

"Banyak alat-alat suntik, ada pisau satulah. Dia memang jualan kosmetik, nggak buat membekap. Diketahui pelaku memang baru pulang jualan dan memang tak digunakan itu pisau dan alat-alat yang lain," jelasnya.

Julianthy mengatakan keduanya, baik pelaku maupun korban, akhirnya sepakat berdamai. Meski begitu, pihaknya tetap menyita benda yang ditemukan dalam tas pelaku.

"Akhirnya damai mau, korban tidak bikin laporan. Barangnya kita sita," katanya.(DC/FI)

Miss Universe dan Putri Indonesi Temui Presiden Jokowi di Istana Bogor

Presiden Joko Widodo menerima Putri Indonesia di Istana Bogor, Senin (11/3/2019). Foto : KOMPAS.com/Ihsanuddin.
BOGOR, FEMALE.CO.ID- Putri Indonesia 2019 Frederika Alexis Cull dan Miss Universe 2018 Catriona Elisa Magnayon Gray bersama para finalis pemilihan Putri Indonesia 2019 menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Senin (11/3) siang.


Pada kesempatan tersebut, Presiden Jokowi didampangi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno. Ketua Dewan Pembina Yayasan Putri Indonesia (YPI), Putri Kus Wisnu Wardhani, yang menginiasi pertemuan tersebut mengemukakan, bahwa para finalis Putri Indonesia 2019 sebanyak 39 orang yang memiliki latar belakang heterogen dari mahasiswi, pramugari, model, presenter diharapkan menjadi motor sosialisasi dasar negara dan semboyan Indonesia.

“Selama 10 hari masa karantina mereka dibekali antara lain pembekalan anti korupsi dari KPK supaya mengetahui sesuai cita-cita Presiden,” kata Putri seperti dikutip dari laman resmi setkab.go.id.

Dijelaskan Badan Narkotika Nasional (BNN), juga dilibatkan untuk membekali masalah narkoba. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah pembekalan anti hoaks yang disampaikan Direktur Cyber Crime dari Kepolisian.

Pembekalan lain, menurut Putri, adalah terkait masalah politik. Hal ini, menurut Ketua Dewan Pembina YPI, penting agar seluruh finalis tidak menjadi golput (golongan putih).

Sebagaimana diketahui dalam pemilihan dalam final yang digelar di Jakarta, Jumat (8/3) malam, Frederika Alexis Cull dari Jakarta 1 terpilih sebagai Putri Indonesia 2019. Sedangkan pemenang kedua adalah Jolene Marie Cholock Rotinsulu dari Sulawesi Utara,  dan pemenang ketiga yakni Jesica Fitriana Martasari dari Jawa Barat.

“Ketiga pemenang tersebut akan mewakili Indonesia di beberapa ajang internasional seperti Miss Universe, Miss International, dan Miss Supranational,” ungkap Putri.

Pemilihan Putri Indonesia, menurut Ketua Dewan Pembina YPI itu, berdasarkan kriteria 3B yakni Brain (kecerdasan), Beauty (berpenampilan menarik), dan Behavior (berperilaku baik). (Wan)

Renatta Moeloek Gantikan Chef Marinka Sebagai Juri Masterchef Indonesia

Instagram @renattamoeloek
JAKARTA, FEMALE.CO.ID- Ada yang baru dari gelaran Masterchef Indonesia tahun ini yang berhasil curi perhatian publik.

Nama  Renatta Moeloek dijadikan pengganti Chef Marinka, juri Masterchef Indonesia sebelumnya.
Chef Renatta adalah sosok chef bergaya nyentrik nan elegan.
Dikutip dari Tribun News, Renatta dalam acara tersebut masih berformasi sama, Chef Juna dan Chef Arnold juga tetap menjadi juri utama, dan Renatta menjadi juri wanita satu-satunya.

Chef Renatta, panggilan akrabnya, langsung menjadi perhatian publik.

Pasalnya, wanita berambut hitam dan berkulit sawo matang ini mempunyai karakter yang tegas.
Alhasil, banyak yang penasaran dengan sosok Chef Renatta. (TN/FI)

Koalisi Gerakan Perempuan Disabilitas Dukung Pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual


JAKARTA, FEMALE.CO.ID- Koalisi Gerakan Perempuan Disabilitas mendukung percepatan pembahasan sekaligus pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Mereka juga menyampaikan sejumlah usulan untuk menyempurnakan RUU Pengapusan Kekerasan Seksual, termasuk mengusulkan ada asas non-diskriminasi.


Perempuan disabilitas menjadi sasaran empuk para pelaku kekerasan seksual. Menurut catatan akhir tahun Komnas Perempuan pada 2018, kekerasan seksual menjadi bentuk kekerasan yang paling menonjol menimpa perempuan disabilitas. Pada ranah rumah tangga dan publik, terjadi 64 kekerasan seksual, 20 persen kekerasan psikis, sembilan persen kekerasan ekonomi, dan tujuh persen kekerasan fisik.

Menanggapi fenomena itulah, Koalisi Gerakan Perempuan Disabilitas menemui Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat. Mereka menuntut Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual segera disahkan.

Namun sayangnya, hanya tiga anggota Komisi VIII yang menerima koalisi tersebut, yakni Rahayu Saraswati Djojohadikusumo dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya serta dua dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan: Dyah Pitaloka dan Agung Putri Astrid.

Koalisi Gerakan Perempuan Disabilitas meliputi Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), Perhimpunan Jiwa Sehat Indonesia (PJSI), Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni), Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (Gerkatin), Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Ikatan Sindroma Down Indonesia (ISDI), Sarana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB), serta Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak (SAPDA).

Ketua Umum Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Maulani Rotinsulu mengatakan Koalisi Gerakan Perempuan Disabilitas mendukung percepatan pembahasan sekaligus pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Maulani menyampaikan pula beberapa usulan untuk menyempurnakan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, termasuk adanya asas non-diskriminasi karena hal tersebut berkaitan dengan bagaimana perempuan disabilitas yang menjadi korban kekerasan seksual diperlakukan di hadapan hukum. Sebab selama ini banyak kesaksian kaum disabilitas tidak dianggap.

Pada kesempatan itu, Ketua Umum Perhimpunan Jiwa Sehat Indonesia (PJSI) Yeni Rosadamayanti membacakan pernyataan sikap dari Koalisi Gerakan Perempuan Disabilitas. Koalisi tersebut mendukung RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang disusun oleh Komnas Perempuan bersama berbagai organisasi perempuan, termasuk organisasi-organisasi penyandang disabilitas.


"Tiga, menolak sikap Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang menghilangkan banyak pasal penting dari RUU P-KS ini yang disusun oleh Komnas Perempuan dan organisasi-organisasi perempuan. Keempat, mendukung penuh DPR RI untuk mempercepat proses pembahasan dan segera mengesahkan Rancangan Undang-undang Penghapusan kekerasan Seksual ini," kata Yeni.

Pemerintah memang telah merevisi beberapa pasal dalam Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU P-KS), antara lain terkait soal pencegahan, hukum acara, pemidanaan, restitusi, pemulihan, dan pemantauan.

Pada pertemuan dengan tiga anggota Komisi VIII itu, juga hadir sejumlah perempuan disabilitas menjadi korban kekerasan seksual dan pendamping korban yang juga perempuan penyandang disabilitas.

Ipung, pendamping korban, bercerita terjadi tindakan diskriminatif dalam hukum terhadap perempuan disabilitas yang menjadi korban kekerasan seksual. Dia mencontohkan Pasal 433 dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata), yang menyebutkan setiap orang dewasa yang selalu berada dalam keadaan dungu, gila, atau mata gelap berada di bawah pengampuan. Sehingga lanjutnya, perempuan disabilitas tidak bisa mengambil keputusan untuk diri sendiri.

"Kemudian terkait dengan keabsahan menjadi seorang saksi, harus melihat, mendengar, dan mengalami sendiri. Sedangkan kawan-kawan difabel akan mengalami persoalan ini. Kami kebanyakan dianggap tidak memiliki kapasitas hukum yang sama dengan manusia lainnya," ujar Ipung.

Ipung menambahkan pelaku kekerasan seksual terhadap perempuan disabilitas kebanyakan orang-orang terdekat, seperti ayah kandung, ayah tiri, tetangga, penjaga asrama, satpam, tukang ojek antar jemput, dan majikan. Selain itu, posisi perempuan disabilitas juga rentan karena sebagian besar bekerja di sektor rumah tangga.

Karena itu, Ipung sangat berharap RUU Penghapusan Kekerasan Seksual memfasilitasi kebutuhan perempuan disabilitas yang menjadi korban kekerasan seksual dalam proses hukum. Dia juga meminta Pasal 104 dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dihapus dan RUU tersebut segera disahkan.

Pasal 104 tersebut menyatakan pemasangan kontrasepsi atas izin keluarga untuk penyandang disabilitas mental itu bukan pidana. Padahal, menurut Ipung, dalam pasal lain disebutkan pemasangan kontrasepsi tanpa izin orang yang dipasangkan adalah tindakan pidana.

Anggota Komisi VIII dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya Rahayu Saraswati Djojohadikusumo mengakui RUU Penghapusan Kekerasan Seksual ini memang sangat dibutuhkan. Apalagi, banyak terjadi kekerasan seksual terhadap perempuan, termasuk kaum hawa penyandang disabilitas. Ia menyampaikan tekadnya untuk berupaya menambah pasal-pasal menjadi lebih detail agar perempuan disabilitas mampu menghadapi proses hukum dalam pembelaannya.

"Perlu lebih spesifik untuk teman-teman disabilitas karena mungkin berbagai kendala yang tidak dimungkinkan secara fisik atau pun psikis dalam berhadapan dengan prosedur hukum," kata Saraswati.

Saraswati juga mengatakan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual itu rencananya akan disyahkan Mei mendatang. [fw/em/voa]

Ini 5 Perempuan Top Pengelola Startup, Ada yang Sudah Unicorn



Para wanita tersebut bekerja dan mampu membawa perubahan dan sukses membangun bisnis start-up. Lantas siapa sajakah sosok-sosok wanita tangguh tersebut?

Tan Hooi Ling
Muda, pintar dan berprestasi mungkin ini adalah kata-kata yang tepat buat Tan Hooi Ling selaku cofounding GrabTaxi, yakni perusahaan transportasi online start-up yang sukses di Asia Tenggara. Sebagai penggila gadget, wanita asal Malaysia ini membesarkan GrabTaxi bersama temannya Anthony Tan pada tahun 2012.

JAKARTA, FEMALE.CO.ID- Dalam beberapa tahun terakhir, dunia startup memang menjadi primadona untuk memulai usaha atau tempat bekerja. Tidak hanya digeluti oleh pria tapi sejumlah wanita pun juga membangun dan bekerja di perusahaan-perusahaan start-up.

Kendati demikian, sosok Tan Hooi Ling kurang populer di masyarakat sebagai salah satu pendiri GrabTaxi ketimbang Anthony Tan.

Wanita lulusan Harvard Business School tersebut lebih cenderung pada operasional perusahaan dan Anthony fokus pada pemasaran dan hubungan investor.

Hingga saat ini Tan Hooi telah mengembangkan tiga bidang utama, yakni GrabHitch, layanan ride sharing sosial yang terjangkau untuk pada komuter yang bisa menjadi solusi transportasi bagi masyarakat perkotaan. Lalu, GrabCar, yakni layanan penyewaan kendaraan pribadi, dan GrabBike, layanan pemesanan taksi motor.
Foto: Co-Founder Grab Tan Hooi Ling (detik.com/Muhammad Idris)

Alamanda Shantika

Berkarir di bidang teknologi bukan hal yang baru bagi Alamanda Shantika. Sebelum bergabung dengan Go-Jek sebagai Vice President of Product, Ala sapaan akrabnya sempat bekerja di beberapa perusahaan Berrybenka dan Kartuku.

Tidak hanya itu, Ala juga pernah menjadi Chief Activist di FemaleDev, Program and Curriculum Advisor di Gerakan Nasional 1000 Startup Digital, serta Advisor di beberapa perusahaan dan perbankan seperti Oktagon, Pijar Imaji, Nama Studio, dan CIMB Niaga.

Ala merupakan tim awal yang merintis Go-Jek dari nol bersama sang pendiri, Nadiem Makarim. Peran Ala pun tak main-main, yakni sebagai motor dan otak di balik sistem aplikasi Go-Jek.

Foto: Pengembang aplikasi Go-jek Alamanda Shantika (Foto: Lynda Hasibuan/CNBC Indonesia)



Diajeng Lestari
Nama Hijup.com mungkin sudah begitu dikenal bagi para hijabers se- Indonesia. Diluar negeri, e-commerce yang fokus pada fesyen muslim ini juga telah melakukan ekspansi ke beberapa negara seperti London.

Diajeng Lestari adalah sosok wanita yang mampu mengembangkan Hijup sampai seperti sekarang dan berhasil menembus pasar internasional. Istri dari Achmad Zaky founder Bukalapak.com ini membuat situs tentang fesyen muslimah dari brand-brand ternama.

Pada tahun 2011 ia mendirikan Hijup.com dengan konsep seperti mal namun online. Singkat cerita, HijUp.com menjadi e-commerce menjadi yang pertama di Indonesia bahkan dunia yang menyediakan khusus baju-baju muslimah yang syar'i.
Foto: CNBC Indonesia/Lynda Hasibuan


Cynthia Tenggara
Berawal dari permasalahan sehari-hari, Cynthia Tenggara mencoba membangun usaha layanan delivery katering yang mengikuti perkembangan zaman yakni Berrykitchen.

Wanita kelahiran 11 September 1985 ini membangun katering online yang praktis dan mudah. Targetnya pun pekerja kantoran yang ingin menyantap makan siang nikmat, bersih dengan harga terjangkau, Berry Kitchen menyedikan 10-15 pilihan lauk setiap hari.

Siapa sangka, Berry Kitchen juga boleh dikatakan sebagai pemain utama bisnis katering online yang berusaha memuaskan kebutuhan ribuan pekerja kantoran di Jakarta.

Saat ini Berry Kitchen bisa dikatakan sebagai pemain utama bisnis katering online yang berusaha memuaskan kebutuhan ribuan pekerja kantoran di Jakarta.


Mesty Ariotedjo
Tidak hanya sebagai selebriti tapi Mesty Ariotedjo juga dikenal sebagai praktisi kesehatan. Bahkan kini membangun WeCare.id, sebuah situs yang membantu banyak orang.

Sejak tahun 2015, Mesty telah mendirikan organisasi tersebut yang kini menjadi situs yang dibangun khusus untuk mengumpulkan dana bagi pasien di daerah terpencil atau yang membutuhkan akses terhadap perawatan kesehatan dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Lantaran insting dan inisiatifnya lewat WeCare.id, Mesty masuk daftar Forbes '30 Under 30' 2016.

Foto: Arina Yulistara/CNBC Indonesia
 
Sumber : CNBC.